Sukses Jadi Artis, Siapa Sangka Wanita Spesialis Peran Pembantu ini Juga Punya Masa Lalu yang Pilu, Begini Kisahnya - Misteri Kisah
loading...

Sukses Jadi Artis, Siapa Sangka Wanita Spesialis Peran Pembantu ini Juga Punya Masa Lalu yang Pilu, Begini Kisahnya

Misterikisah.com ~ Jika Anda sering menonton tayangan sinteron stripping di beberapa statiun televisi Indonesia, pasti tak asing  dengan artis satu ini. Ia sering berperan sebagai pembantu yang judes tapi kelakuannya sangat kocak.

Aktingnya selalu mengundang tawa penonton, menggemaskan dan membuat penonton justru ngomel-ngomel  sendiri. Ya, Ia adalah Ana Chrisitina Pinem, atau akrab dengan Ana Pinem,


Dikutip Misterikisah.com dari laman Tribunnews.com, Ana mengawali kariernya di dunia seni peran lewat sinetron Incen yang disutradarai oleh Arswendo  Atmowiloto. Wanita berdarah Karo kelahiran Sumatera Utara 25 Desember 1976 ini, mulai dikenal lewat  perannya sebagai Bik Tum dalam sinetron Kisah Sedih di Hari Minggu. Ana Pinem memang membintangi cukup banyak sinetron, dan kebanyakan ia memerankan tokoh antagonis, tetapi akhir-akhir ini dia lebih sering memerankan tokoh protagonis yang konyol.

Sebagai artis yang membintangi berbagai judul sinteron membuat kehidupannya jauh lebih baik. Sebab, di balik tingkah kocak yang kerap ia tampilkan di banyak judul sinetron yang ia bintangi, ia ternyata memiliki masa lalu yang pilu.

Dilansir dari Tabloidnova, Ana terlahir hanya sebagai anak kelima dari enam bersaudara. Ayah Ana hanya seorang supir bus Pekerjaan ayah Ana sebagai supir bus luar kota membuatnya pulang ke rumah tiap dua  minggu sekali. "Itu pun hanya 1-2 hari. Tapi, aku tak merasa kurang kasih sayang Bapak. Tiap beliau pulang  justru aku senang sekali. Makanan di rumah rasanya lebih enak karena banyak lauk-pauk. Belum lagi uang  jajan bertambah karena kami sering dibawakan recehan logam," tuturnya berkaca-kaca.

Tahun pun berlalu, kondisi perekonomian semakin sulit saja. Karena ingin mengubah nasib, orang tua Ana memutuskan pindah ke Jakarta. Ayah Ana juga ingin anak-anaknya mengenyam pendidikan tinggi agar tak mengikuti jejaknya menjadi supir.

"Ketika itu tahun 1979, aku masih berusia tiga tahun. Kami sekeluarga diboyong ke Jakarta, tepatnya di bilangan Jati Asih, Bekasi. Lingkungan tempat tinggalku yang baru ini agak berbeda. Banyak warga keturunan Betawi, yang juga berbaur dengan suku Batak Karo. Teman-temanku pun bertambah banyak," kata Ana.

Di Jakarta, pekerjaan ayah Ana tetap menjadi supir, karena pengjasilan beliau masih pas-pasan rumah mereka hanya terbuat dari papan triplek.

"Kalau hujan, atap rumah bocor. Walaupun hidup serba pas-pasan, tapi kami semua harus tetap bersekolah. Aku juga tetap bahagia dan tak merasa miskin. Bagiku kekayaan yang tak ternilai adalah kasih sayang dan kehangatan keluarga. Aku tak pernah minder atau iri dengan teman-teman lain," paparnya.

Ana mengakui ia bukan murid ang cerdas ketika duduk d bangku SD. DI raportnya pun sering ada nilai merah. Tetapi orang tuanya memang tidak pernah banyak omong menyuruh atau menasehati keenam anaknya namun lebih menunjukkan teladan melalui perbuatan.

"Misalnya, kalau sedang marah Bapak tak pernah menunjukkan emosinya di depan kami. Kalau ada masalah dengan Mamak, pasti Abangku yang pertama langsung tanggap dan mengajak adik-adiknya main ke luar rumah untuk nonton di bioskop. Pesan Bapak yang aku ingat adalah kesopanan. Selain itu, kami diajarkan untuk tidak mengambil hak orang lain dan menyayangi sesama," ujarnya.

Keuangan yang pas-pasan membuat Ana tidak seperti anak lainnya bersenang-senang. Bahkan ia sering menguntit pengunjung bioskop agar bisa masuk tanpa membeli tiket.

"Harga satu karcis bioskop Rp 300, orang dewasa boleh membawa satu anak kecil. Karena tidak punya uang lebih untuk nonton, aku sering menguntit pengunjung bioskop yang datang sendirian. Aku cuek saja meski tak kenal. Yang penting aku terlihat seperti anaknya dan bisa masuk ke dalam untuk nonton gratis. Sampai-sampai penjaga tiket hafal dengan wajahku," ucap Ana diiringi derai tawa.

Malang menimpa Ana saat usianya menginjak bangku SMP kelas 1. Ayahnya pergi untuk selama-lamanya. Setelah beliau tiada, ibundanyalah yang menjadi kepala rumah tangga sekaligus tulang punggung. 

"Kehidupan jadi makin berat dan susah, tapi Mamak tak menyerah. Beliau mencari uang sebagai makelar tanah. Sambil kuliah Abangku yang tertua pun kerja sampingan. Puji Tuhan, kami tak perlu pulang kampung dan semuanya bisa sekolah hingga lulus," ungkap Ana dengan nada sedih.

Masa-masa remaja Ana dihabiskan dalam kesederhanaan. Melihat gedung kampus yang menjulang tinggi saja ia membayangkan betapa mahal biaya kuliah. Bahkan sebelum tidur, ia selalu berdoa agaria diberikan tempat terbaik untukku menimba ilmu.

"Doaku terjawab di suatu pagi. Kakak perempuanku menawari kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), karena ia juga senang seni. Tapi tak tahu apa itu IKJ. Ketika datang untuk melihat kampusnya di Cikini, aku langsung jatuh cinta dan ingin sekali kuliah di sana. Aku terpesona dengan bangunan dan suasananya yang berbeda dari perguruan tinggi lain," katanya.

Ana  memilih jurusan yang biaya kuliahnya paling murah yakni teater. Saat ujian masuk D3 Teater, ia diberi tes dialog dan monolog yang diuji oleh Didi Petet dan Sofia WD. Ketika tiba pengumuman, namanya tercantum sebagai mahasiswi yang lolos seleksi.

"Senang sekali rasanya karena jurusan teater memang selektif, hanya menampung 19 orang," ujarnya lagi.

Ana dibiayai kuliah oleh abangnya, untuk  itu ia bertekad harus lulus dengan nilai baik. Lingkup pergaulan juga kuperluas. Ana juga memperluas pergaulan tak hanya dengan sesama anak teater tapi juga mahasiswa dari bidang musik, sinematografi, tari, audio visual. Seni peran, olah tubuh dan dapur teater adalah bidang studi yang paling disukainya.

"Memainkan peran di panggung teater juga aku suka. Aku pernah memerankan perempuan baik-baik, ibu-ibu sampai jadi p3lacur.  Bersama teater IKJ aku melakukan pementasan di berbagai kota di Indonesia bahkan hingga ke Malaysia. Tahun 1998 aku menamatkan kuliah dan diwisuda tahun 2002. Senang rasanya melihat Mamak bisa datang mendampingiku, meski Bapak telah tiada," jelasnya.

Sambil menunggu wisuda, Ana sempat ikut sandiwara radio yang disutradarai dosennya. Sandiwara itu direkam di  studio audio Pospro dan disiarkan ke seluruh Indonesia, karena jumlahnya ratusan episode, mau tak mau hampir setiap hari ia harus nolak-balik ke studio.

"Di situlah aku bertemu operator audio, Robertus Bobby Ratno Setyanto. Seperti pepatah Jawa “witing tresno jalaran soko kulino”, karena sering bertemu lama-lama kami saling suka dan pacaran. Untungnya ia tipe orang yang diam, cocok dan sesuai pria idamanku. Setelah dua tahun berpacaran, kami menikah pada 2006 silam,” terangnya.

Lulus kuliah Ana kembali bingung mau bekerja dengan ijazah teaternya. Tapi salah satu dosen  menyarankan untuk fokus di teater sebab industri perfilman dan pertelevisian di Indonesia pasti bangkit, sehingga peluang dalam pencarian pemain berbakat terbuka lebar. Ia sempat ikut teater Putu Widjaya dan Renny Jayusman.

 "Untuk memenuhi kebutuhan hidup,mulailah aku ikut casting sinetron. Dari info sana-sini aku bersama teman-teman sesama lulusan teater rajin mendatangi Production House (PH). Pertama kali menjajal casting, banyak sekali cerita lucu yang kualami. Aku pernah berangkat casting ramai-ramai naik kopaja. Tiba di lokasi, sandal cantikku copot. Jadi aku harus pinjam sandal teman yang sudah selesai di-casting," kenangnya sembari tertawa.

Casting demi casting Ana lalui, kemudian ia bertemu dengan PH milik Arswendo Atmowiloto. Sinetron Incen adalah debut pertamanya berakting di layar kaca sebagai ibu-ibu Betawi untuk dua episode. "Setelah selesai, aku pamit, eh, besoknya aku ditelepon untuk meneruskan peran yang sama. Lumayan dapat 13 episode dan tayang seminggu sekali," katanya.

Pertama melihat dirinya muncul di televisi Ana merasakan bangganya bukan main. Honor pertama Ana memberikannya kepada ibundanya dan memberli jam tangan yang ia inginkan. Tahun 2003, Ana kembali ikut casting di PH Sinemart di kampus IKJ. Salah satu sutradara sedang mencari karakter pembantu rumah tangga yang antagonis. Ana ikut dan akhirnya lolos, ia mendapat peran untuk dua episode di sinetron Kisah Sedih di Hari Minggu. Tapi Begitu selesai, ternyata porsi perannya diperbanyak.


A photo posted by Ana C Pinem (@anacpinem) on

"Aku pun beradu akting dengan Meriam Belina dan Marshanda memerankan Bik Tum, pembantu rumah tangga yang jahat tapi konyol. Dari situlah aku mulai intens berperan dalam sinetron panjang. Peranku sebagai pembantu cukup menyita perhatian pemirsa dan berkesan. Karena karakternya jahat, nyinyir, menyebalkan, tapi konyol," paparnya.

Selanjutnya, Ana jadi makin sering membawakan peran pembantu di banyak sinetron dengan karakter yang berbeda-beda.

"Ada yang jahat, baik, konyol, bahkan genit. Walau ada juga skenario yang membuatku bergidik karena peranku sangat jahat. Namun, semua itu harus dijalani. Risikonya, setiap bertemu penonton, ada saja ibu-ibu yang mendamprat  karena kesal melihat aktingku di sinetron. Aku hanya tertawa-tawa saja menanggapinya," ucapnya.

Motivasi utama Ana bermain sinetron sebenarnya untuk mencari uang, bukan ingin menjadi artis terkenal atau mengharap penghargaan. Semua semata karena bidang yang bisa ia lakukan adalah seni peran.

"Inginnya, sih, suatu saat nanti aku mendapat peran sebagai hero di genre action. Menurutku, cerita dan karakternya pasti akan sangat menantang. Aku sendiri juga memang suka film action dan drama," ungkapnya.

Ana menuturkan ibundanya merupakan penonton setia setiap sinetron yang ia bintangi. Beliau malah sering memberi masukan atas aktingnya. Maklum, bakat seni memang mengalir karena ia senang menulis, menyanyi, dan menganalisa cerita. Sedangkan almarhum ayahnya senang main suling dan menari. Ana juga merasakan pahitnya main sinetron, yakni seringkali pulang jam 3 pagi sambil naik motor. 

"Rasanya mata ini harus diganjal agar tetap melek. Kegiatan sehari-hariku, ya, syuting di lokasi. Jika libur di hari Minggu, aku kumpul bersama Mamak, kakak, keponakan, dan tentu saja dengan suamiku," tuturnya.

Karena suaminya juga bekerja di industri kreatif dan seni, rasa saling pengertian soal profesi di antara mereka sudah terjalin sejak pacaran. Sang suami sering menemani atau menjemput saat pulang.

"Bila sedang libur, kami sering makan di luar atau nonton bioskop, tetap seperti hobiku saat kecil. Aku belum memiliki momongan. Yang penting rumah tanggaku langgeng. Karier dan keluarga berjalan baik dan sama-sama sukses. Kami saling percaya dan selalu saling mendukung," jelasnya.

Ana selalu menjalani hidup layaknya air mengalir dan tak ada obsesi tertentu. Ana hanya ingin berakting semampunya, sampai kapanpun akan tetap dijalani. Seni peran sudah menjadi bagian hidupnya dan menjadi sumber kehidupan.

"Puji Tuhan hingga kini aku sudah terlibat dalam belasan judul sinetron. Meskipun ini bukan mimpi masa kecilku, tapi aku bersyukur bisa diberi rezeki yang besar. Senang rasanya bisa membantu keluarga. Bisa membeli barang-barang yang dulu hanya bisa kulihat saja," ujarnya.

Ana menambahkan suatu saat nanti ia ingin sekali berbisnis sebagai antisipasi bila tak lagi aktif di dunia seni peran. Maka dari itu, pendapatannya juga disisihkan untuk investasi.

Baca Juga:

- Mengejutkan! Lama Tak Terdengar Kabar Diana Pungky, Inilah Kehidupan Si "Jinny"
- Meski Dinobatkan Sebagai Artis Terkaya, Ternyata Agnez Mo Suka Pakai Benda Sederhana ini Hingga Banjir Komentar
- Inilah 10 Selebriti Terkaya di Indonesia, Nomor 3 Pasti Bikin Kamu Kaget!

"Maunya, sih, aku ingin berakting sampai tua seperti Nanny Wijaya. Banyak orang yang sangsi pada masa depan seniman, tapi keluargaku justru mendukung. Untunglah orangtuaku tak pernah memaksa. Mereka menyerahkan tanggung jawab pada diriku. Hanya, Mamak selalu berpesan agar aku tetap rendah hati. Artis, kan, manusia juga, hanya bedanya dikenal oleh pemirsa," tutupnya. [Misterikisah/ Tribunnews]

Loading...
Suka Artikel Ini?
Loading...
loading...