Niat Buang Ayahnya di tepi Jurang, Tak Disangka! Suami Istri ini Batal Melakukannya Karena Sang Anak Mengikuti dari Belakang dan Berkata Begini - Misteri Kisah
loading...

Niat Buang Ayahnya di tepi Jurang, Tak Disangka! Suami Istri ini Batal Melakukannya Karena Sang Anak Mengikuti dari Belakang dan Berkata Begini

Niat buang ayah, Misterikisah.com ~ Saat usia senja, kebanyaka  orang tua mengalami sakit sebelum tutup usia, Di sinilah peran sanganak untuk bisa merawatnya dengan baik dengan tanda bakti kepada sang irang tua.

Pepatah lama mengatakan, “Tidak ada anak yang berbakti saat di usia senja terbaring sakit tak berdaya di ranjang”. Kisah inilah yang dialami oleh pak Zhang, pria berusia enam puluh tahun ini, sudah lebih dari dua tahun terbaring sakit di ranjang antara hidup dan mati karena penyakit yang mendera.

Sang anak laki-lakinya, Fang Jian-kui dan menantunya awalnya masih cukup sabar bergantian mengurusnya. Namun lama-kelamaan mereka jadi jengkel dan berharap sng ayah cepat diambil Yang Maha Kuasa.
 Apalagi anak menantunya, yang selalu marah-marah melihat ayah mertuanya yang sudah tak berdaya, buang air besar dan kecil di ranjang. Untuk itulah, ia begitu berharap mertuanya cepat mati dengan segera,

Malam itu, lagi-lagi kakek Zhang buang air  besar di tempat tidur, namun, karena tak ingin merepotkan putra dan menantunya, pak Zhang berusaha untuk duduk, tapi tak berdaya, malah jatuh dari ranjang.

Sang anak pun terkejut melihat ayahnyabyang terjerembab.

“Ayah, kalau mau BAB panggil kami saja, kalau begini kan malah lebih susah dibersihkan, coba lihat sendiri kotorannya di mana-mana,” kata putranya yang main jengkel.

“Nak, ayah merasa tidak enak karena telah merepotkan kalian, jadi,ayah ingin membersihkannya sendiri,” kata Zhang dengan menahan tangis.

“Memangnya ayah bisa membereskannya ? Sepertinya ayah memang sengaja, karena melihat kami terlalu santai! Dasar orang tua tak berguna!” cetus putranya makin kesal.

Zhang hanya diam membisu mendengar makian  Perkataan putranya begitu menusuk-nusuk relung hatinya. Setelah ranjangnya dibersihkan dan mengganti seprai yang baru, pak Zhang mengutarakan niatnya.

Zhang meminta putranya membawanya ke tepi jurang di atas sebuah bukit, ia ingin mengakhiri hidupnya, lebih cepat lebih baik, ia tak sanggup lagi menahan siksaan sakit yang dideritanya di dunia ini.

Mendengar permintaan ayahnya, Fang Jian-kui, tidak banyak berkata, ia hanya mengatakan. “Ayah mau aku dicaci-maki orang seumur hidup ya ?”

“Nak, aku tidak akan merepotkan kamu kalau aku bisa berjalan sendiri. Aku merasa lebih baik mati saja daripada hidup tersiksa seperti ini, aku mohon nak.” Ukar kakek Zhang tenang.

“Kondisi ekonomi keluara sekarang juga cukup memprihatinkan, kamu tidak perlu susah-susah memikirkan biaya peti mati kalau kamu membuang aku ke jurang. Semua ini atas kemauanku sendiri dan aku ikhlas nak, tidak ada hubungannya denganmu, dan Tuhan juga tahu,” sambungnya

Mendengar itu, menantunya langsung mengangguk setuju.

“Apa yang ayah bilang benar sekali, lebih baik mati saja daripada hidup menderita setiap hari seperti ini. Kami akan merajut sebuah keranjang besar, membawa ayah ke atas bukit, kemudian melempar ke jurang,” kata sang menantu.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka merajut keranjang. Suami istri ini kemudian mengangkat ayah mereka ke luar desa begitu matahari senja terbenam ke dalam keranjang itu,

Sesampainya di puncak bukit, mereka terkejut ternyata putra mereka ternyata terus
mengikuti mereka.
“Ming-ming, ibu kan sudah bilang jangan ke sini, ayo cepat pulang !” kata ibunya.

Tapi, Ming-ming tak bergeming.

Ayahnya pun langsung naik pitam .

“Mau pulang tidak? Atau mau kupukul?,” hardik sang ayah.

“Ayah-ibu, tolong nanti keranjangnya disimpan ya,” kata Ming Ming.

“Untuk apa ?” Tanya ayahnya bingung.

“Nanti kalau ayah-ibu sudah tua dan tidak bisa bergerak, aku kan bisa menggunakan keranjang itu dan membuang kalian ke jurang!” Kata putranya dengan santai, tapi sangat bermakna.

Mendengar kata cucunya, Zhang pun menangis haru, sementara suami-istri itu hanya diam membisu. Kata-kata anaknya begitu menohok.

“Ayo bawa ayah pulang!” kata Fang Jian-kui pada istrinya.

Namun ucapan cucunya yang cerdas bukan saja telah menyelamatkan nyawa pak Zhang, tapi juga terjadi perubahan yang tak terduga di usia senjanya.

Dan yang tak pernah diduga, menantunya yang dulu tak pernah sekalipun membantu membersihkan badannya, sekarang secara aktif membersihkan badannya, dan memberinya minum suplemen. Sementara cucunya juga sering menemaninya, berbincang-bincang dan menggoda kakeknya tertawa.

Diiringi suasana hati yang ceria, kondisi penyakit pak Zhang pun berangsur-angsur membaik.

Dua bulan kemudian, ia sudah bisa turun dari ranjang, dan berjalan normal seperti biasa. Singkat cerita pak Zhang ternyata bisa bertahan hidup hingga 99 tahun, dan menjadi orang dengan usia tertua di desanya.

Dan berbekal itu jugalah, segenap penduduk desa memuji suami isteri Fang Jia-kui sebagai anak yang berbakti, Zhang benar-benar beruntung memiliki keluarga yang berbakti kepadanya. [Misterikisah/ Bl]

Loading...
Suka Artikel Ini?
Loading...
loading...
Aplikasi_Android