Profesor Ini Sedih Punya 3 Anak Perempuan yang Cantik Tapi Bisu! Ia Syok Saat Ditanya Biksu, “Masih Ingat Apa yang Anda Lakukan 25 Tahun Silam?” - Misteri Kisah
loading...

Profesor Ini Sedih Punya 3 Anak Perempuan yang Cantik Tapi Bisu! Ia Syok Saat Ditanya Biksu, “Masih Ingat Apa yang Anda Lakukan 25 Tahun Silam?”

Professor sedih punya 3 anak cantik tapi bisu, Misterikisah.com ~ Suatu hari ada pasangan suami-isteri profesor yang dikaruniai tiga anak perempuan yang sangat cantik. Kehidupan mereka begitu terpandang karena keduanya bergelar profesor ini sekarang berusia lima puluh lima tahun.

Mereka memiliki tiga anak perempuan yang cantik, yang masing-masing berusia 20, 23, dan 25 tahun. Walau usia sudah waktunya menikah, tapi hingga sekarang tidak punya calon. Tak heran banyak yang melamar, namun pada akhirnya mereka mundur satu persatu. Alasannya karena ketiga putri profesor itu ternyata... Bisu.

Sang ayah yang merupakan seorang profesor intelektual sangat tidak percaya karma yang mengakibatkan tiga anak perempuannya bisu. Pukulan yang berat ini membuat mereka kecewa, sedih dan muram, wajah mereka juga tampak semakin tua.

Tiba-tiba mereka menyadari, harta benda ternyata tak bisa membuat mereka bahagia. Cacat fisik yang diderita ketiga putrinya membuat mereka merasa takut, cemas dan tak berdaya. Pasangan profesor yang akan segera memasuki usia senja semakin tersiksa secara batin dan jasmani, akhirnya berangsur-angsur mulai tertarik dengan agama.

Atas rekomendasi temannya, akhir pekan lalu mereka pun mendengarkan ceramah kehidupan dari biksu. Tak disangka, ketika sampai di biara, seorang biksu lalu bercerita tentang sebab dan akibat. Biksu tersebut berkata, hukum sebab-akibat dari “karma baik dan jahat” itu eksis secara objektif, dan itu memang adanya. Tidak peduli Anda percaya dan tidak, kita semua hidup dalam hukum sebab-akibat.
"Kita masing-masing harus bertanggung jawab atas perilaku baik dan jahat yang kita perbuat, setiap orang dapat menciptakan takdir mereka sendiri. Jika anda yang melakukan kejahatan itu, maka Anda akan merasakan balasan yang menyakitkan!," ceramah sang biksu.

Kata-kata biksu itu bagaikan gaung yang membahana, seketika memasuki sanubari profesor. Dia merasakan garis pandang biksu itu seakan-akan menusuk relung hatinya.

Seusai ceramah, si profesor langsung menemui sang biksu, dan tak disangka, sang biksu pun langsung bertanya, “Apa yang pernah Anda lakukan pada 25 tahun yang lalu … Anda tahu sendiri kan?”

Sang profesor terkejut seketika mendengar pertanyaan itu. Ia pun terbayang dengan peristiwa 25 tahun yang lalu, dia pernah melakukan sesuatu yang membuatnya tak bisa melupakannya. Dua bulan setelah menikah, istri profesor pun hamil, dan dia sangat bahagia saat itu.

Setiap akhir pekan, profesor selalu mengajaknya jalan-jalan ke pantai atau ke tempat yang indah. Suatu hari saat profesor menghadiri undangan, mobilnya diparkir di alun-alun vihara. Baru saja membuka pintu mobil, segerombolan anak-anak gelandangan langsung mengemis padanya.

Ternyata profesor ini paling benci dengan anak-anak pengemis, ia bukan saja tidak bersedekah, bahkan berpesan pada orang-orang untuk tidak memberikan uang pada mereka. Menurutnya hanya akan menumbuhkan kebiasaan buruk, bukannya mencari pekerjaan yang halal, malah bermalas-malasan, gerombolan anak-anak pengemis itu pun membubarkan diri setelah mendengar ocehan profesor.
Seusai menghadiri undangan tersebut, profesor pun berjalan ke mobilnya. Tapi, dia terkejut melihat mobil barunya penuh bekas goresan memanjang dari ujung ke ujung dengan benda tajam.

Profesor pun seketika naik pitam, dan langsung menuduh anak-anak gelandangan yang tadi mengemis padanya yang melakukan. Dia memandang ke sekeliling dan melihat ada 4 sampai 5 anak-anak tanggung usia puluhan tahun di sebuah pohon mangga sedang bermain melempar koin.

Sang profesor langsung menghampiri mereka dan tanpa banyak tanya lagi langsung menampar mereka satu persatu, kemudian memaksa mereka untuk mengatakan siapa yang menggores mobilnya. Karena tidak ada yang mau mengakuinya, profesor kemudian mengancam akan membawa mereka ke kantor polisi.
Dan karena tak berdaya, salah satu anak yang lebih besar berkata sambil menunjuk ke arah seorang bocah gelandangan yang berpakaian compang camping yang sedang mengemis pada orang asing di sana. Profesor pun segera berlari ke sana dengan penuh emosi, dan menyeret bocah gelandangan itu ke mobilnya, sementara anak-anak gelandangan lainnya melarikan diri.

Profesor kemudian menampar muka anak itu, lalu menginterogasinya mengapa menggores mobilnya? Setelah cukup lama ditanyakan, dan tidak ada respon, baru diketahui ternyata bocah itu bisu. Dia hanya menggerak-gerakkan tangannya dengan pandangan mata ketakutan, pandangan yang sembab dan mengibakan.

Profesor tidak mengerti arti isyarat dari tangannya, ia pun berpikir anak itu pasti masih menyimpan dendam karena tadi sempat berpesan untuk tidak memberi uang pada anak-anak jalanan. Jadi, profesor pun dengan murka menampar dan menendang keras dada bocah gelandangan itu hingga terkapar dan langsung memuntahkan darah segar dari mulutnya.

Sementara itu, orang-orang yang berkerumun segera menghentikan tindakan profesor yang lepas kendali, dan membawa pergi si bocah gelandangan. Sebelum pergi, bocah gelandangan itu sempat menoleh dan menatap tajam ke arah profesor, pandangan mata yang dipenuhi dengan kebencian yang dalam.

Belakangan bocah gelandangan itu menetap sementara di kuil, dan ia menjadi cacat setelah pulih dari lukanya. Orang-orang tahu persis bocah gelandangan itu adalah anak yang baik, mobil profesor pun bukan dia yang mengoresnya, tapi profesor telah salah menganiayanya.

Belakangan, pada akhir tahun ketika itu, istri profesor melahirkan seorang anak perempuan yang manis, namun, sampai usia dua tahun belum bisa berbicara. Lalu anak perempuan keduanya lahir, tapi belum bisa berbicara meski sudah berumur tiga tahun.
Belakangan melahirkan lagi anak perempuan ketiga, dan kali ini langsung diperiksa dokter, dan lagi-lagi anak perempuan bisu. Karena takut anak keempat, kelima dan seterusnya melahirkan anak bisu lagi, istri profesor pun segera meminta dokter untuk operasi sterilisasi.

“Biksu … Anda….!,” kata profesor terpaku tidak melanjutkan bicaranya.

“Jangan melakukan hal buruk apa pun jika tak ingin mengalami akibat buruknya itu berbalik pada diri sendiri. Sering-seringlah berbuat amal kebaikan, sebagai bekal untuk menebus dosa.” Kata biksu itu dengan lembut sambil berlau," ujar snag biksu

Mungkin profesor itu tidak menyangka, akhir dari akibat perbuatannya yang semena-mena tanpa bukti itu ternyata menyusahkan anak-anaknya sendiri yang tak tahu apa-apa. Hanya bisa mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak-Nya.

Baca Juga:

Bagaimana menurut Amda? [Misterikisah/ Gt]

Loading...
Suka Artikel Ini?
Loading...
loading...