Kisah Nyata: Ita Minta sang Ayah Kembalikan Tangannya, Yang Terjadi Bikin Nangis - Misteri Kisah
loading...

Kisah Nyata: Ita Minta sang Ayah Kembalikan Tangannya, Yang Terjadi Bikin Nangis

Misterikisah.com ~ Terkadang orang tua akan membentak bahkan main tangan saat mereka marah melihat anak berbuat kesalahan atau tidak menurut. Tapi perlakuan seperti ini akan mengakibatkan musibah di kemudian hari.

Bagi orang tua yang seringkali memukul anak-anaknya. Cobalah simak kisah nyata ini, yakni tentang anak kecil bernama Ita yang memohon pada papanya untuk mengembalikan tangannya.

Seperti keluarga lainnya, sepasang suami istri ini tinggal di kota besar. Mereka terpaksa meninggalkan anak-anak untuk diasuh pembantu rumah saat mereka pergi bekerja. Suami istri ini memiliki seorang putri berusia 3,5 tahun bernama Ita. Ita hanya ditemani pembantunya. Kerap ia dibiarkan bermain sendiri karena Sendirian dirumah, dia kerap dibiarkan main sendiri oleh pembantunya yang repot bekerja.

Ita seringkali bermain di luar rumah. Ia senang bermain ayunan, yang dibelikan papanya di halaman rumah. Suatu hari Ita menemukan sebatang paku berkarat. Dengan paku itu, ia juga mencorat-coret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan. Tapi karena lantainya terbuat dari marmer, coretan tersebut tak terlihat.

Ita malah mencobanya ke mobil baru papanya. Karena mobil tersebut berwarna putih, coretan pun terlihat jelas. Apa lagi kanak-kanak ini juga bikin coretan sesuai dengan kreativitasnya. Mobil papa Ita memang sengaja tak digunakan. Hari itu papa dan mamanya mengendarai motor ke tempat kerja untuk menghindari macet.

Ita membuat coretannya dengan bentuk ayam, rumah, dan hasil imajinasi lainnya di sisi kiri dan kanan mobil itu. Pembantunya tak mengetahui apa yang dilakukan Ita karena sibuk bekerja. Saat pulang pada petang hari tersebut, terkejutlah papa dan mama Ita dengan kondisi mobil baru yang baru setahun dibeli dengan cicilan.

Papa Ita yang belum lagi masuk ke rumah ini juga selalu berteriak berang, ‘Kerjaan siapa ini? ’ Pembantu rumah yang tersentak dengan teriakan itu berlari keluar. Dilihatnya wajah majikan prianya merah padam karena marah.

Sekali lagi diserahkan pertanyaan keras padanya, dia selalu menyampaikan ‘Tak tahu…! ’

'Kamu dirumah selama seharian, apa sajakah yg kau kerjakan? ’ hardik sang istri kepada pembantunya.

Mendengar suara sang papa, Ita pun berlari keluar.

Dengan penuh manja, Ita berkata "Ita yg bikin itu papa…. cantik kan!," tuturnya sambil memeluk papanya.

Mendengar pengakuan putrinya, pria ini langung naik pitam. Ia mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, lalu dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya. Ita yang tidak tahu apa-apa menjerit kesakitan. Ia tak tahu bahwa mencorat-coret mobil adalah kesalahan yang fatal.

Parahnya lagi, sang mama hanya diam, seakan merestui dan senang dengan hukuman yang diberikan agar putrinya jera. Pembantunya hanya terbengong, tidak tahu mesti berbuat apa? Mau menolong tapi takut kena marah sebab ia juga kasihan papanya memukul tangan kanan dan kiri Ita berkali-kali.

Setelah puas menghukum Ita, papa dan mamanya masuk ke rumah. Sang pembantu pun menggendongnya dan membawabke kamar. Si pembantu merasa ngeri dan kasihan saat diliat tangan putri majikannya penuh luka-luka kecil yang berdarah.

Ia pun memandikan Ita, Ita yang terluka parah di kedua tangannya pun menjerit kesakitan. Luka-lukanya terasa sangat perih ketika terkena air. Si pembantu rumah lalu menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan Ita tidur bersama pembantu rumah.

Keesokkan harinya, ke-2 tangan Ita bengkak. Pembantu rumah mengadu pada majikannya.

 'Oleskan obat saja!," kata papa Ita.

Seolah ia lupa memiliki anak akibat kesalahan Ita yang tak disengaja. Pulang dari kerja, dia tak memerhatikan anknya yang terbaring sakit di kamar pembantu. Si ayah konon ingin menghukum anaknya untuk tak berbuat nakal. Tiga hari berlalu, papa dan mama Ita tak pernah menjenguk anaknya sendiri.

Bahkan saat pembantu rumah memberi tahu Ita demam. Sang mama hanya menyuruhnya meminumkan obat penurun panas.

Sebelumnya mamanya pernah masuk kamar tidur pembantu untuk melihat kondisi Ita. Saat dilihat, anaknya sedang memeluk pembantunya. Maka mma Ita pun menutup pintu kamar tanpa mendatangi putrinya. Saat hari keempat, pembantu rumah memberitahukan majikannya kalau suhu tubuh Ita sangat panas.

"Nanti sore kita bawa ke klinik," kata sang majikan.

Kondisi Ita saat itu sudahnsedemikian kritis. Sampai dokter pun menyarankan untuk segera dirujuk ke rumah sakit lantaran kondisinya serius. Selama seminggu perawatan, akhirnya dokter meminta orang tua Ita menemuinya.

‘Tidak ada pilihan... kami sarankan kedua tangannya harus diamputasi, sebab sudah mengalami infeksi yang sangat kronis," ucapan dokter bagai petir yang menerjang di siang bolong bagi orang tua Ita.

Kedua tangan Ita telah bernanah karena infeksi serius pada lukanya. Untuk menyelamatkan nyawanya, kedua tangannya harus diamputasi dari siku ke bawah.

Mendengar penjelasan dokter, dunia serasa berhenti berputar bagi orang tua Ita. Tapi sesal memang selalu di belakang. Sang mama hanya bisa menangis memeluk putrinya Ita  meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan tangan bergetar, papanya menandatangani surat kesepakatan pembedahan.

Keluar dari kamar pembedahan, Ita kembali menangis kesakitan lantaran obat biusnya habis efeknya. Dia juga heran lihat ke-2 tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya wajah orang tuanya kemudian sang pembantu rumah. Mereka semua menangis.

"Papa.. Mama… Ita akan tidak melakukannya lagi. Ita tidak ingin dipukul papa. Ita tidak ingin jahat. Ita sayang papa.. sayang mama," kata-kata Ita membuat mamanya berhambur memeluknya sambil berderai air mata.

"Ita juga sayang Kak Narti...," katanya melihat wajah pembantunya yang sesenggukan.

"Papa.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa di ambil.. Ita janji gak bakal mengulanginya lagi! Bagaimana kalau Ita ingin makan kelak? Bagaimana Ita ingin bermain? Ita janji tdk bakal mencoret-coret mobil lagi," perkataan Ita membuat papanya sangat merasa bersalah telah menghukumnya sedemikian keras.

Seharusnya ia tak melakukannya karena anak sekecil Ita belum mengerti. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Tangan Ita tak bisa dikembalikan. Putrinya cacat karena hukuman darinya.

Baca Juga:

Pelajaran yang begitu bernilai untuk para orangtua, kenakalan anak itu wajar. Jika mereka terluka, berikan perhatian sendiri pada anak serta janganlah tergantung pada pembantu. Sejatinya tugas mereka hanya membantu. Pekerjaan paling utama orang tua adalah mendidik dan mengasihi anak Anda. [Misterikisah/KM]

Loading...
Suka Artikel Ini?
Loading...