Gadis Ini Mendapat Bantuan Biaya Kuliah dari Desa, Tapi 10 Tahun Kemudian, Dia Malah Seret Warga ke Penjara, Ternyata ini yang Terjadi - Misteri Kisah
loading...

Gadis Ini Mendapat Bantuan Biaya Kuliah dari Desa, Tapi 10 Tahun Kemudian, Dia Malah Seret Warga ke Penjara, Ternyata ini yang Terjadi

Gadis dapat bantuan biaya kuliah dari desa, Misterikisah.com ~ Di desa San Shui, provinsi Guangdong, Tiongkok. Seorang gadis mengetuk mengetuk pintu rumah tetangga dari pintu ke pintu, tapi tak disangka tidak ada seorang pun yang keluar membukakan pintu.



“Bibi Zhang, kumohon, tolong pinjamkanlah sedikit uang untukku!”

“Paman Zheng, aku mau sekolah, tolonglah pinjamkan sedikit uang, pasti akan kukembalikan!”

“Nenek Li, aku mohon tolong bantulah aku, aku benar-benar terpaksa …”

Gadis itu kemudian ke rumah kepala desa yang membukakan pintu untuknya, kepala desa yang tengah menikmati Shisha atau biasa juga disebut hookah (gaya merokok tembakau ala Timur Tengah) menarik napas panjang.

“Dek, bukan penduduk desa tidak mau membantumu, mereka juga hidupnya serba susah, lagipula coba lihat kondisi keluargamu sekarang, penduduk desa juga tidak berani meminjamkan uangnya,” kata kepala desa itu.

Karena tidak mendapakan pinjaman, gadis bernama Xiao Li pun pulang sambil mengusap air matanya. Ayah Xioa Li sudah lama meninggal, sementara ibunya lumpuh akibat kecelakaan kerja tahun lalu di sebuah pabrik batubara di pedesaan.

Pabrik batubara di desa itu adalah perusahaan patungan, tapi ibu Xiao Li yang mengalami kecelakaan kerja itu tidak mendapatkan sepersen pun kompensasi. Dalam kondisi seperti ini, jangankan untuk sekolah, untuk makan sehari-hari saja susah, pantas saja tidak ada penduduk yang berani meminjamkan uang padanya.

“Xiao Li, dapat pinjaman berapa uangnya?” Tanya ibunya.

“Bu, sebaiknya aku tidak usah sekolah, aku akan kerja di pabrik batu bara, sekaligus bisa merawatmu,” kata Xiao Li sambil terpaksa tersenyum.

“Omong kosong!” sahut ibunya marah.

“Apa kamu mau mengulangi kejadian tragis seperti ibu? Dengan susah payah akhirnya kamu diterima di universitas, pokoknya kamu harus kuliah!” kata ibu Xiao Li.

“Begini saja, kamu jual saja sapi dan ladang kita, uangnya untuk biayamu kuliah!”

Mendengar kabar ibu Xiao Li mau menjual sapi, ayam dan ladangnya, penduduk desa pun berkerumun di rumah Xiao Li, dan rumah Xiao Li pun tiba-tiba menjadi ramai.

“Yaa, sapinya sudah tua, paling juga 3000 yuan atau sekitar 6 juta rupiah.”

“Tidak setinggi itulah harganya, saya taksir paling banyak juga sekitar 4 atau 5 juta rupiah,” kata warga desa menaksir-naksir harga sapi ibu Xiao Li.

Xiao Li pun menimpali, “Bi, sapi kami bobotnya lebih dari 300 kg lho, pasti harganya lebh dari 6 juta rupiah!”

“Aduh dek, 4 juta juga sudah tinggi, jangan terlalu serakah aaah!”
Penduduk desa menekan Xiao Li dan ibunya yang janda, mereka pikir Xiao Li dan ibunya sedang membutuhkan uang, jadi mereka pun sengaja tawar-menawar menekan harganya serendah mungkin. Akhirnya, Xiao Li menjual sapi, tanah dan rumah leluhurnya, semua uang yang terkumpul sudah cukup buat biaya kuliah dan biaya hidup selama empat tahun.

Sebelum pergi, kepala desa tersenyum puas dan berkata, “Hmm, Xiao Li, kamu bisa kuliah juga berkat bantuan kami segenap warga desa lho, nanti kalau sukses, jangan lupa sama kami ya.” 

Belakangan, Xiao Li dan ibunya meninggalkan desa San Shui yang telah ditinggalinya selama lebih dari 20 tahun. Xiao Li mengajukan sebuah asrama terpisah di sekolah, ia kuliah sambil kerja, dan merawat ibunya yang lumpuh.

Sepuluh tahun pun berlalu.

“Kapten Li, menurut number, bahwa perdagangan manusia di daerah ini sangat merajalela, terutama Desa San shui. Hanya saja masyarakat di desa ini sangat kompak juga sangat waspada, orang luar sama sekali tidak dapat menemukan buktinya, apalagi menyelamatkan perempuan korban trafficking/perdagangan manusia.”

Dalam tim polisi itu, sekelompok polisi sipil sedang rapat, dan tiba-tiba, seorang polisi wanita mengangkat tangannya dan berkata, “Kapten Li, biarlah saya yang menyusup kesana. Sebenarnya, saya penduduk desa San shui, mungkin bisa mendapatkan kepercayaan mereka.”

Benar, polwan ini adalah Xiao Li. Setelah lulus dari akademi kepolisian, dia diterima di satuan kepolisian dengan prestasinya yang luar biasa dan mengagumkan.

“Oh?” Kapten berpikir dengan serius, “Kalau begitu, Anda punya saudara di desa?”

Xiao Li menggelengkan kepalanya, “Ayahku sudah lama meninggal, sementara ibuku lumpuh. Tidak ada seorang penduduk desa pun yang membantu kami, sehingga saya terpaksa menjual semua barang-barang yang masih berharga dan pindah ke daerah lain.”

“Tapi apa mereka akan percaya padamu kalau kamu kembali?”

“Saya punya satu ide, kapten bagaimana menurut Anda kalau dengan cara ini ?” Xiao Li berbisik di telinga kaptennya yang mengangguk-anggukan kepala.

Keesokan harinya, Desa Sanshui tiba-tiba dikunjungi beberapa mobil mewah, penduduk desa berhamburan keluar untuk menyaksikan keramaian. Saat pintu terbuka, tampak seorang wanita muda dan cantik berpenampilan anggun, jelas itu adalah sosok wanita berduit.

Segenap penduduk desa San shui tampak tercengang, mereka saling pandang heran, dan dalam benak mereka mungkin sangat berharap wanita berpenampilan “Wah” itu adalah kerabatnya, tapi mereka tidak mengenal wanita anggun itu.

Tahu-tahu wanita cantik itu melangkah maju, dan langsung meraih tangan seorang wanita : “Bibi Zhang, apa bibi tidak mengenal saya lagi? Saya Xiao Li!”

“Xiao Li ?” semua yang berkerumun di sana pun menatap wanita itu dengan seksama, dan memang dia adalah Xiao Li!

Suasana pun seketika menjadi hiruk pikuk, semua warga desa berdesakan mendekati Xiao Li.

“Astaga, benar-benar Xiao Li rupanya! Saya paman Zheng, kamu lupa ya?” Paman pernah menggendongmu waktu kecil lho!”

“Xiao Li, sekarang kamu dewasa, pasti sudah makmur sekarang ya? Ck…ck..ck…kita semua merindukanmu lho!”

“Bagaimana kabar ibumu, nanti kalau sempat kami akan menjenguk ibumu !”

Tangan Xiao Li digenggam erat warga desanya, dan tidak mau bubar, Xiao Li pun mau tak mau hanya tersenyum.

“Terima kasih semuanya, keadaan saya sekarang juga biasa-biasa saja, hanya membuka beberapa perusahaan kecil. Ibu saya juga baik-baik saja,” kata Xiao Li.

“Xiao Li, kenapa tiba-tiba berkunjung ke desa? Sudah sepuluh tahun lamanya, kepala desa masih seperti dulu, selalu menikmati shisanya/hookah,” kata mereka.

“Saat keluarga kami susah ketika itu, hanya tersisa seekor sapi tua, beberapa lahan dan satu rumah reyot, untung saja kalian semua bersedia membantu kami, membeli tanah dan rumah kami, sehingga saya bisa sekolah, dan bantuan kalian ini selalu saya ingat, tidak pernah melupakannya.”

“Saya membuka cukup banyak pabrik di kota-kota besar, butuh pekerja wanita muda. Jadi, saya pikir, daripada rezekinya untuk orang lain, lebih baik untuk warga desa sendiri, dan kita kaya bersama!” kata Xiao Li.

“Bagus!” Warga desa seketika bersorak gembira, kepala desa juga tampak senyuman senang.

Xiao Li tinggal di desa selama beberapa hari, ia selalu memberi angpao/uang begitu melihat anak-anak, dan menggelar jamuan makan untuk segenap penduduk desa.

Di rumah kepala desa, Xioa Li meyakinkan warga desanya dan berkata, “Nanti setelah pabrik berjalan stabil, saya pasti akan memberi sebuah pekerjaan yang enak untuk putra kepala desa!”

Kepala desa tampak tersenyum senang mendengar ucapan Xiao Li, dan tiba-tiba berkata, “Xiao Li, kamu harus baik-baik menjaga anak-anak perempuan desa ini ya.”

Xiao Li terseyum mendengar pesan kepala desa, “Jangan khawatir paman, Xiao Li jamin mereka akan hidup enak nanti, sistem keamanan pabrik kami sangat tinggi, tidak ada pekerjaan yang berbahaya.”

Kepala desa mengetuk cangklongnya (pipa rokok), “Bukan itu maksud saya, maksud saya  Banyak dari mereka itu warga luar desa. Jangan sampai mereka kabur, kamu tahulah maksudku?”

Xiao Li paham maksud kepala desa, dan menepuk dadanya, berkata, “Paman tenang saja, pabrik kita ada satpamnya, mereka makan dan tinggal di pabrik, tidak bisa keluar. Dan gaji mereka setiap bulan akan saya transfer ke rekening paman, dan paman yang membaginya untuk mereka, bagaimana ok?”

“Ok! Ok! Paman jadi tenang sekarang kalau kamu tahu itu,” Sahut kepala desa bukan main senangnya.

Pada akhir bulan, para penduduk desa San shui tampak sedang bermimpi membayangkan pundi-pundi uang yang akan segera masuk ke kantong mereka.

Namun, tiba-tiba, terdengar sirene rombongan mobil polisi memasuki desa. Warga desa membuka pintu rumahnya dan melihat puluhan mobil polisi telah mengepung desa San shui, dan akhirnya menciduk 40 pria dan 12 perempuan termasuk kepala desa sendiri.

Mereka semua adalah oknum pedagang yang memperdagangkan perempuan dan anak-anak. Korban mereka adalah bayi, anak-anak dan perempuan yang dibawa dari desa San shui dan desa miskin di sekitar. Dan keluarga penadah yang membeli perempuan dan anak-anak.
Segenap penduduk desa Sanshui baru sadar, ternyata Xiao Li bukan bos besar, tapi seorang polisi wanita. Diam-diam Xiao Li telah memotret banyak bukti kejahatan mereka ketika dia berada di desa San shui, dan membuat BAP dari para perempuan yang diculik.

Semua bukti telah dinyatakan lengkap dan tidak satu pun dari oknum-oknum itu akan lolos dari jeratan hukum. (*)

Sumber: Erabaru

Loading...
Suka Artikel Ini?
Loading...